Peristiwa

Eksistensi Menjamur, Penertiban Setengah Hati: Manusia Silver Kuasai Persimpangan Tanjunganom, Satpol PP Nganjuk Dipertanyakan

36
×

Eksistensi Menjamur, Penertiban Setengah Hati: Manusia Silver Kuasai Persimpangan Tanjunganom, Satpol PP Nganjuk Dipertanyakan

Sebarkan artikel ini

Oposisinews.net|Nganjuk-Fenomena Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang kian menjamur di kawasan perkotaan kini menjadi ujian serius bagi penegakan peraturan daerah di Kabupaten Nganjuk. Potret buram penataan kota ini salah satunya tercermin tajam di persimpangan Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Tanjunganom. Kehadiran para manusia silver yang secara konsisten menguasai area lalu lintas tersebut tidak hanya mencoreng estetika ruang publik, tetapi juga terus merampas kenyamanan dan keselamatan warga masyarakat yang melintas setiap harinya.

​Kendati telah berulangkali dikeluhkan publik dan menjadi sasaran penertiban aparat, para pelaku PMKS ini terbukti amat membandel dan seolah tidak tersentuh efek jera. Situasi gawat ini lantas memantik gelombang kritik tajam terhadap kinerja Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Nganjuk. Masyarakat menilai pola penindakan yang diterapkan selama ini terkesan formalitas semata, pasif, dan gagal menghadirkan solusi konkret yang berjangka panjang.

Manusia Silver di persimpangan Jalan Ahmad Yani Lampu Merah Tanjunganom.

​Berdasarkan pemantauan di lapangan tim awak media dan kesaksian warga sekitar, para manusia silver ini secara agresif memanfaatkan momentum kemacetan di lampu merah. Aksi meminta-minta uang berkedok seni jalanan tersebut dinilai sangat meresahkan. Selain memaksa pengendara secara halus hingga intimidatif, keberadaan mereka di tengah jalur aktif sangat membahayakan keselamatan jiwa, baik bagi pengguna jalan maupun diri mereka sendiri.

​”Hampir setiap hari mereka beroperasi di perempatan A. Yani Tanjunganom. Kalau tidak diberi uang, tidak jarang mereka menunjukkan gestur tidak menyenangkan, cemberut, bahkan sengaja menghalangi laju kendaraan. Ini sangat membahayakan. Harus ada tindakan tegas yang konsisten dan berkelanjutan dari petugas, bukan sekadar datang lalu pergi,” tegas Antok, salah satu pengguna jalan yang rutin melintasi jalur tersebut, Selasa, 1/9/2026.

​Sorotan tajam masyarakat secara khusus tertuju pada minimnya pengawasan rutin dan sistematis dari pihak Satpol PP Kabupaten Nganjuk. Warga mengkritik keras pola razia aparat yang dinilai sebatas “hangat-hangat tahi ayam”gencar bergerak saat menjadi sorotan publik atau media, namun mendadak mengendur dan terkesan membiarkan beberapa hari setelahnya. Sikap penegak perda yang terkesan ‘kucing-kucingan’ ini dinilai menjadi celah utama yang terus dimanfaatkan para pelaku PMKS untuk kembali menguasai jalanan.

​Masyarakat mendesak agar Satpol PP Kabupaten Nganjuk segera merombak total strategi penindakannya. Penertiban tidak boleh lagi berhenti pada tindakan fisik atau pengusiran sesaat di lapangan. Diperlukan langkah sinergis yang terintegrasi lintas sektoral, khususnya dengan Dinas Sosial Kabupaten Nganjuk, guna memberikan pembinaan, pelatihan keterampilan, hingga rehabilitasi sosial yang terukur dan berkelanjutan bagi para pelaku.

​Tanpa adanya komitmen politik yang kuat, pengawasan melekat di titik-titik rawan, serta solusi sosial yang mendasar, persimpangan Jalan Ahmad Yani Tanjunganom dipastikan akan terus menjadi panggung abadi bagi maraknya operasi manusia silver. Jika pembiaran ini terus berlanjut, tidak hanya ketertiban umum yang dikorbankan, tetapi juga marwah dan ketegasan pemerintah daerah dalam menegakkan hukum di wilayahnya sendiri.(di)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *