JOMBANG,OposisiNewsNet- Komitmen Kabupaten Jombang dalam menghadirkan solusi penanganan sampah yang berkelanjutan menuai apresiasi tinggi dari tingkat nasional. Menteri Lingkungan Hidup, Ir. Mohammad Jumhur Hidayat, M.Si., secara terbuka menyebut sistem pengelolaan sampah di wilayah ini sangat progresif dan layak dijadikan panutan bagi daerah lain di Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan di sela-sela peninjauan langsung fasilitas pengolahan sampah di TPA Banjardowo, Kabupaten Jombang, pada Rabu (15/07/2026).
“Ini adalah kabupaten yang membanggakan, penuh dengan inisiatif, dan berhasil menghasilkan suatu sistem pengelolaan sampah yang boleh dibilang mendekati sempurna,” ujar Jumhur Hidayat di hadapan Wakil Bupati Jombang, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH), serta jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan tamu undangan yang hadir.
Dalam pemaparannya, Menteri menyoroti volume timbulan sampah di Jombang yang mencapai sekitar 530 ton per hari, dengan porsi sampah yang masuk ke TPA Banjardowo berkisar hampir 180 ton per hari. Namun, karena keterbatasan kapasitas alat yang ada saat ini (maksimal 35 ton), belum semua sampah terkelola secara optimal. Beliau mendorong peningkatan kapasitas alat produksi hingga 200 ton agar sampah yang terbuang ke TPA benar-benar hanya menyisakan residu.

Menteri Lingkungan Hidup menjelaskan bahwa komposisi sampah organik,seperti sisa makanan dan sayuran mencapai 55% hingga 60% dari total sampah. Jika dipilah dan dikelola dengan baik, sampah organik memiliki nilai ekonomis tinggi, salah satunya melalui konversi menjadi pellet biomassa sebagai substitusi batu bara.
“Jika diolah menjadi pellet untuk pendamping batu bara, prosesnya tidak terlalu rumit dan harganya bisa berkisar antara 40 hingga 50 dolar AS per ton. Jika kita bisa mengolah 60 ton saja per hari, potensi pendapatan yang dihasilkan bisa mencapai sekitar Rp30 juta per hari,” jelasnya.
Produk biomassa ini sangat diminati oleh industri besar, seperti pabrik semen, untuk menekan penggunaan energi fosil dan meningkatkan nilai kepatuhan lingkungan.
Guna mendongkrak nilai tambah dan pendapatan daerah dari sektor ini, Kementerian Lingkungan Hidup berkomitmen mengkaji bantuan teknologi tambahan, seperti alat pirolisis maupun teknologi pengolahan lainnya.
“Kami akan membantu mencarikan jalan keluar, mempelajari alat apa yang bisa ditambahkan agar proses ini semakin maksimal dan mendatangkan pendapatan yang lebih besar,” tegasnya.
Di akhir sambutannya, Jumhur Hidayat mengenang kedekatan emosionalnya dengan Jombang sewaktu berjuang bersama almarhum Gus Dur dan keluarganya sebagai sesama aktivis. Beliau memuji identitas Jombang sebagai Kota Santri yang mampu menerapkan nilai keagamaan dalam aksi nyata menjaga kebersihan lingkungan.

“Kebersihan adalah sebagian dari iman. Teman-teman santri di Jombang betul-betul membuktikan hal tersebut secara nyata. Jombang pantas menjadi percontohan ekonomi sirkular bagi kabupaten-kabupaten lain di Indonesia,” pungkasnya.
Mendampingi kunjungan tersebut, Wakil Bupati Jombang, Salmanudin Yazid, S.Ag., M.Pd.I. (Gus Wabup), menyampaikan apresiasinya atas dukungan nyata dari Kementerian Lingkungan Hidup.
”Dengan datangnya Pak Menteri di Jombang, harapannya dapat membawa manfaat. Tadi didukung penuh oleh Pak Menteri, adapun dukungan tersebut berupa peralatan yang meningkatkan nilai sampah terolah, yakni alat pembuatan Refuse Derived Fuel (RDF),” jelas Gus Wabup.
Dukungan alat pembuatan RDF ini ditujukan untuk mengolah sampah anorganik menjadi bahan bakar alternatif industri, disamping potensi pengolah sampah organik menjadi wood pellet. Langkah ini diberikan melihat efektivitas pengelolaan sampah di Jombang yang dinilai berjalan sangat baik, di mana dari total timbulan sampah 530 ton per hari, lebih dari 300 ton di antaranya telah berhasil dikelola.
Dalam kunjungan tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jombang, Miftahul Ulum, S.T., M.Si., turut memandu proses peninjauan alur teknis operasional, termasuk pemeriksaan performa mesin pencacah serta sarana pemilahan sampah di lokasi.
Kunjungan kerja ini menegaskan posisi strategis TPA Banjardowo dalam peta modernisasi infrastruktur persampahan daerah. Melalui akselerasi teknologi dan dukungan penuh dari Kementerian LH, Pemerintah Kabupaten Jombang optimistis mampu mengubah tantangan lingkungan menjadi peluang ekonomi baru yang memberi dampak nyata bagi masyarakat secara berkelanjutan.(Hd)












