NGANJUK,OposisiNewsNet– Sektor peternakan ayam Arab di wilayah Kabupaten Nganjuk saat ini tengah menghadapi tantangan serius. Meskipun minat masyarakat terhadap konsumsi telur ayam Arab terbilang tinggi, hal tersebut tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan para peternak akibat merosotnya harga jual di pasaran.
Salah satu wilayah yang terdampak cukup signifikan adalah Kecamatan Ngronggot. Di daerah ini, harga telur ayam Arab anjlok hingga menyentuh angka 40 persen. Dari harga normal yang semula berkisar Rp1.800 per butir, kini tingkat peternak terpaksa menerima harga hanya sekitar Rp1.000 per butir. Kondisi ini otomatis membuat pendapatan para peternak menurun drastis.
Komoditas ayam Arab sendiri sebenarnya sangat diminati oleh masyarakat luas. Selain rasanya yang khas, kandungan nilai gizi telur ayam Arab dinilai lebih tinggi jika dibandingkan dengan telur ayam konsumsi pada umumnya. Namun, potensi pasar yang besar ini terhambat oleh ketidakstabilan harga.

Peternak ayam Arab asal Ngronggot, Anis Prasetyo, menyampaikan keluhannya langsung saat ditemui awak media di kandang ayam miliknya pada Kamis (16/7/2026). Ia menegaskan bahwa kendala utama yang dihadapi peternak saat ini bukanlah rantai distribusi atau pemasaran, melainkan murni fluktuasi harga pasar yang tidak berpihak pada peternak.
”Sebenarnya untuk pemasaran tidak sulit, karena sudah ada pengepul yang rutin mengambil. Hanya saja, harga pasarnya yang saat ini sedang menurun drastis. Kami sangat berharap pihak dan dinas terkait bersedia turun ke lapangan untuk memantau dan memastikan harga komoditas ayam Arab ini bisa kembali stabil,” ujar Anis Prasetyo.
Menyikapi kondisi yang pelik ini, para pengusaha dan peternak lokal menaruh harapan besar kepada Pemerintah Kabupaten Nganjuk. Mereka berharap pemerintah melalui dinas terkait dapat segera mengambil langkah taktis, baik melalui pemantauan regulasi harga pasar maupun perluasan akses pasar, demi menjaga keberlangsungan usaha peternakan rakyat di Kabupaten Nganjuk.(Hd)












