Nganjuk.OposisiNews.Net – M. Ardiyanto resmi menjadi Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdindik) Jawa Timur (Jatim) wilayah Nganjuk di akhir tahun lalu. Meski baru menjabat, Ardiyanto ingin langsung tancap gas. Ada lima program yang akan dijalankan di Nganjuk.
Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Jawa Timur (Jatim) wilayah Nganjuk memiliki nahkoda baru. Dia adalah M. Ardiyanto. Sejak akhir Desember lalu, Ardiyanto resmi menjadi Kacabdindik Jatim wilayah Nganjuk. Dia menggantikan Iwan Triyono yang berpindah menjadi Kacabdindik Jatim wilayah Jember.
Menjadi kacabdindik adalah pengalaman pertama bagi Ardiyanto. Karena sebelumnya dia menjabat sebagai Kepala Seksi (Kasi) Pendidikan Menengah Kejuruhan pada Cabdindik Jawa Timur wilayah Kabupaten Gresik.
“Saya mengawali karir sebagai guru di Kota Surabaya. Hingga berlanjut sebagai Kacabdindik Jatim wilayah Nganjuk,” ujarnya kepada wartawan Opososi News.
Meski jadi pengalaman pertama, Ardiyanto ingin langsung sat set. Dia memberi target waktu pada dirinya sendiri. Yaitu, tiga bulan. Selama itu, menurut pria asal Kota Surabaya, harus ada dampak yang dirasakan pada lingkungan pendidikan di Nganjuk. “Saya tidak ingin berlama-lama untuk beradaptasi. Harus benar-benar sat set,” tambahnya.
Bahkan, Ardiyanto sudah menyiapkan lima program yang ingin dijalankannya di Nganjuk. Program itu seperti Digi Preneur School, Bhakti SMK, Literasi Masif dan Sistematis (Limas), Kendali Mutu Internal, dan terakhir adalah Sekolah Inovasi Ketahanan Pangan (Sikap).
Oposisi News.com-/ Ardiyanto merinci, untuk Digi Preneur School, dirinya ingin mendorong siswa SMK, SMK, dan SLB untuk mengembangkan kemampuan dalam berwirausaha berbasis digital. Lalu Bhakti SMK yang ditujukan untuk membaktikan siswa SMK melalui program-program yang berdampak langsung dengan kebutuhan masyarakat. “Bhakti SMK itu nyaris sama dengan KKN (Kuliah Kerja Nyata). Jadi, para siswa diterjunkan langsung untuk membagikan pengetahuan ke masyarakat,” tambahnya.
Lalu ada Limas. Program tersebut bertujuan untuk memperkuat pondasi literasi sebagai kunci pembelajaran. Disusul dengan Kendali Mutu Internal. Program tersebut ditujukan untuk meningkatkan mutu pendidikan di lingkungan sekolah. Sedangkan, yang terakhir adalah Sikap. Yakni, program sekolah yang mendorong pembelajaran berbabis praktik untuk menumbuhkan kemandirian, inovasi, dan kepedulian terhadap ketahanan pangan yang berkelanjutan. “Program-program tersebut juga sudah selaras dengan program dari pemerintah pusat hingga provinsi,” tandasnya. (Hilal)












